Resensi Novel 9 Matahari – AdenitaꟷFormula Spesial Menuju Sempurna

 

Formula Spesial Menuju Sempurna

by Rizky Nurcahyati

614086_4a6fda3e-989f-48a3-b15a-e456b75f43b5

Judul               : 9 Matahari

Penulis            : Adenita

Penerbit           : Grasindo Anggota Ikapi

Kota terbit       : Jakarta

Tahun terbit    : 2008

Tebal buku      : 359 halaman

ISBN                 : 9789790255739

Cetakan ke      : 9

 

Sebuah novel karya Adenita, seorang penulis yang lahir di Jakarta, 3 Juli 1981. Novel bergenre fiksi ini bercerita tentang perjuangan seorang gadis untuk dapat terus melanjutkan pendidikannya, meski berada di tengah kesulitan ekonomi. Suatu idealisme tokoh “Aku” untuk mencapai mimpinya menjadi seorang sarjana. Novel bersudut pandang orang pertama pelaku utama ini, berlatarkan di daerah pinggiran Jakarta dan Bandung. Sebuah kisah yang menyajikan sisi lain dari dunia pendidikan oleh gadis bernama Matari Anas, gadis yang lahir dan besar di Jakarta. Ia mempunyai seorang kakak yang tengah bekerja setelah mendapatkan gelar cum laude D3-nya. Ayahnya seorang pengangguran, dan ibunya ialah seorang ibu rumah tangga.

Sebuah balada seorang mahasiswi pendatang, dalam mencari jati diri di belantara kehidupan. Bagaimana ia dapat bertahan di tengah himpitan kesulitan hidup, tentang semangat berdarah-darahnya untuk menuntut ilmu, pontang-panting mencari nafkah demi kelangsungan hidup dan impiannya, sampai-sampai gali lubang tutup lubang pun ia lakukan. Kisah tentang proses manusia menuju kesempurnaannya, yang dilambangkan dengan angka 9. Novel ini terdiri dari 40 bab, yang termasuk prolog dan epilognya. Penyajian alur campuran, membuat kisah Tari tampak nyata adanya dan cukup mengesankan. Semacam jamur yang tumbuh pada musimnya, buku ini muncul saat buku-buku bertema pendidikan dan persahabatan semacam Laskar Pelangi laris manis di lapangan.

“Impianku.. Oh aku sudah memberikannya nyawa. Aku menghidupkannya dalam hari-hariku. Ketika membuka matakuꟷsaat mengawali hari, aku menyapanyaꟷseperti menyapa matahari. Aku biarkan ia menelusup ke dalam hati, mengintip perasaanku, membiarkannya berteriak bahwa ia menungguku. Aku biarkan hasratku berkembang pesat. Tumbuh, menjulang tinggi. Menyentuh langit, mendekati matahari!” (Hal. 39)

Sungguh, Tari meletakkan impiannya pada tahta tertinggi di pikirannya, melahirkan semangat tidak biasa untuk dirinya sendiri. Apa kau pernah bermimpi untuk menjadi manusia berharga, terpandang, bermartabat setelah mendapatkan gelar sarjana? Jika ya, maka Tari menganggap impian semacam itu terlalu muluk-muluk! Ia terdampar di Bandung untuk impiannya, jauh dari keluarga, menjalani program kuliah jurusan ilmu komunikasi di universitas terkenal jalur ekstensi. Ia sedang mencari arti dirinya, dan membawa keluarganya ke peradaban yang mapan kepada kehidupan yang layak didapatkan, merupakan sesuatu yang ia dambakan.

            Everything Happens for a reason. Ia ingat lagi kata-kata itu, pada saat Tari ingin berhenti meraih mimpinya, rasanya ia telah lelah mengikuti kemana arah mimpinya pergi. Suatu keinginan yang tidak diimbangi dengan kemampuan mewujudkannya. Suatu ketika, Tari mengalami kondisi drop! Ia lelah dengan yang terjadi pada hidupnya, tentang ketidaksanggupannya menutup lubang yang telah ia gali. Timbunan itu pun semakin menumpuk, hanya untuk merealisasikan mimpinya. Tidak, sungguh tidak ada yang salah dengan skenario yang Maha Pemilik Cinta berikan. Semua yang terjadi ialah karena pertanda kasih dan sayang-Nya, pada makhluk ciptaan yang kadang lengah untuk bersyukur atas segala nikmat, yang tak pernah merasa cukup, yang selalu menyalahkan takdir dan keadaan bila situasi sedang sulit. Sekolah kehidupan akan memberikan nilai, pada setiap ujian kehidupan yang diberikan. Apakah seseorang layak untuk mencapai tingkatan selanjutnya?

Pada awalnya keluarga dari Tari tidak mendukung anak bungsunya untuk melanjutkan pendidikannya ke bangku kuliah terutama Bapaknya, namun Tari tetap kokoh dengan idealismenya, bertahan dengan kemampuan mewujudkan yang minim untuk impiannya. Kesulitan dan kepanikan Matari begitu terasa, termasuk perasaannya menanggung utang dan rasa malu, ketar-ketir menghadapi ujian kuliah, juga ujian hidup. Namun, kuatnya tekad dan semangat Tari untuk bertahan menggapai mimpinya memang patut diapresiasi. Ia meninggalkan keluarganya, berusaha hidup mandiri, menghadapi segala realita kehidupan yang cukup menyesakkan untuknya. Bukan sineron yang instan, mengenai  perjuangan, keteguhan, dan bagaimana mencapainya, namun merupakan suatu realitas yang hadir di sekitar kita. Hingga akhirnya, Tari menemukan orang-orang yang mampu memberi pencerahan dalam hidupnya, bangkit dari keterpurukannya menjadi pribadi yang lebih baik.

9 Matahari menyuguhkan kisah yang akrab di telinga, tentang pendidikan dan persahabatan. Covernya berwarna merah menyala dengan gambar ukiran, sederhana namun elegan, dengan tulisan 9 matahari, rasanya telah menggambarkan isi dari buku ini, kisah penuh semangat. Penyajian kisah dan alurnya pun baik, dan cukup menarik. Membaca novel ini seolah membaca diary, ataupun biografi dari pengarang sendiri. Penyettingan kota di Bandung pun cukup kuat, sehingga banyak menghadirkan nama ataupun logat bahasa Sunda yang kental pada beberapa percakapan tokohnya. Sayangnya, penulis seperti menyamarkan nama universitas, stasiun televisi, dan hal lainnya. Sehingga terasa cukup lucu dan aneh, serta membuat penasaran tentang maksud nama yang sebenarnya penulis tujukan. Menurut saya, bila tidak ada unsur penghinaan ataupun menyinggung suatu pihak, tak apa bila tidak disamarkan nama-nama tersebut, agar kesan cerita di dalamnya menjadi lebih hidup.

Mengenai penyajian kata-kata pada novel ini cukup baik dengan menggunakan bahasa pergaulan sehari-hari, meskipun ada beberapa kata yang salah cetak. Kata yang salah cetak tersebut saya temukan di halaman 354, kesalahan yang terlihat remeh namun cukup mengganggu pembaca. Sungguh disayangkan, buku setebal 359 halaman ini dinilai cukup membosankan karena memiliki konflik yang sedikit, selain karena banyaknya bab dan oleh karena tebal buku ini sendiri. Namun tetap saja, banyak hikmah yang dapat dipetik. Novel ini sangat direkomendasikan pada pelajar, mahasiswa baru, kalangan perguruan tinggi, dan orangtua dengan ekonomi kelas bawah yang punya anak sedang berkuliah. Kuliah hingga lulus itu penting, lebih penting lagi tentang integritasꟷsuatu kedewasaaan dalam memandang kehidupan.

Sebuah usaha yang baik oleh penulis untuk memberikan pencerahan pada pembaca, tentang rasa syukur yang harus dimunculkan setelah segala yang kita dapatkan saat ini. Buku yang memiliki banyak pesan moral di dalamnya, penulis berusaha menanamkan bahwa energi positif itu penting adanya! Buku yang menarik untuk dibaca, mengenai fenomena pendidikan di Negeri tercinta, semoga ia tidak ditarik-ulur seperti layangan yang menari-nari di awan.

Ya..Pada akhirnya, kita adalah apa yang kita pikirkan. Kita bangkit dari pikiranꟷdengan pikiran, kita membuat dunia. Bahwa kesuksesan, adalah sebuah pilihan. Tak lupa, Tari mengajarkan bahwa kita dapat belajar kapan saja dan dimana saja, bahwa pendidikan itu sesuatu yang sangat penting! Sedangkan pelajaran kehidupan, merupakan salah satu pelajaran yang tidak berbayar dan semua orang bisa mendapatkannya, manfaatkanlah dengan baik untuk menigkatkan kualitas diri kita sendiri. Semoga pendidikan di Indonesia semakin maju kualitasnya. Semoga semangat pada kalimat-kalimat dalam buku ini dapat menjalar dalam diri kita.

Oh, mimpiku.. Terbang, terbanglah melayang tinggi. Kubiarkan dirimu meliuk, dilihat semua mata. Sampaikan pada dunia, bahwa aku ada!

*Buku ini memberikan semangat yang nyata, hingga saya dapat menggapai mimpi saya untuk berkuliah di PTN. Thanks Adenita, for the good story in 9 Matahari! This book is mean so much for me 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s